الثلاثاء، 12 مارس 2013

Studi Kasus Ilmu Sosial Budaya Dasar


Pasca-Bentrok, Sentani Masih Mencekam

JAYAPURA - Dua hari pascabentrokan berdarah antar suku Yahim Sentani dan suku Pegunungan Papua, situasi kampung Yahim Sentani hingga siang ini masih mencekam.

Pantauan okezone di lapangan, Senin (24/8/2009), sejumlah warga masih berjaga-jaga disekitar tempat bentrokan. Polisi juga nampak masih bersiaga di jalan-jalan sekitar kampung Yahim, Sentan.

Warga yang berjaga-jaga di depan rumah nampak membawa
 peralatan perang tradisional seperti panah, tombak, dan parang. Sementara itu, warga pendatang lainnya yang sejak Minggu malam kemarin mengungsi keluar dari kampung Yahim, hingga kini belum berani kembali karena khawatir akan ada serangan susulan oleh massa dari suku Pegunungan.

Rencananya, hari ini kedua Kepala Suku akan bertemu untuk membicarakan jalan keluar dari konflik. Warga kampung Yahim mengaku masih menunggu salah satu korban luka luka tikam yang saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Dok Dua Jayapura.

PEMBAHASAN

Kasus di atas mengenai bentrok antar suku Yahim Sentani dan suku Pegunungan Papua yang masih mencekam, meskipun peristiwa tersebut telah berakhir. Terlihat masih tampak sejumlah warga yang berjaga-jaga dengan membawa peralatan perang tradisional dan polisi yang  juga masih bersiaga di jalan-jalan sekitar kampung Yamin, Sentani. Sementara itu, warga pendatang lain masih mengungsi karena khawatir akan ada serangan susulan oleh massa dari suku Pegunungan. Meskipun, rencananya kedua kepala suku akan bertemu untuk membicarakan jalan keluar dari konflik tersebut.
Berbagai  upaya yang dapat dilakukan agar peristiwa di atas tidak terjadi lagi, antara lain: (1) membangun kehidupan multikultural yang sehat dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Misalnya, peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebhinekaan budaya, memupuk dan mengembangkan kegiatan, keberanian melakukan perantauan budaya, pemahaman lintas budaya, pembelajaran lintas budaya; (2) peningkatan peran media sebagai mediator antar budaya dengan menampilkan berbagai informasi yang apresiatif terhadap budaya masyarakat lain; (3) strategi pendidikan yang berbasis budaya, yakni menggunakan model dan strategi pembelajaran yang menyeimbangkan proses homonisasi dengan humanisasi. Homonisasi melihat manusia sebagai makhluk hidup dalam konteks lingkungan ekologi, yang memerlukan terasahnya kemampuan intelektual untuk menghadapi tantangan global. Pendidikan sebagai proses humanisasi menekankan manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai otonomi moral, sensitivitas dan kedaulatan budaya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari beberapa upaya di atas adalah: (1) pengaruh positif membangun kehidupan multikultural yang sehat dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya, yakni: mampu menegakkan prinsip kesetaraan/kesederajatan antarmasyarakat, mampu mengelola konflik, yang mungkin timbul dari situasi keragaman agar tidak mengarah pada kekerasan, sehingga pada akhirnya dapat terwujud cita-cita bersama yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, menghilangkan penyakit-penyakit budaya yakni etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi, scape goating; (2) pengaruh positif media massa, yakni: kontribusi dalam menyebarluaskan dan memperkuat kesepahaman antarwarga, pemahaman terhadap adanya kemajemukan sehingga melahirkan penghargaan terhadap budaya lain, sebagai ajang publik dalam mengaktualisasikan aspirasi yang seragam, sebagai alat kontrol publik masyarakat dalam mengendalikan seseorang, kelompok, golongan, atau lembaga dari perbuatan sewenang-wenang, meningkatkan kesadaran terhadap persoalan sosial, politik, dan persoalan lain di lingkungannya; pengaruh negatif media massa yakni: terpinggirkannya kesenian asli Indonesia karena masyarakat banyak disuguhi tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam dan lebih menarik dibandingkan dengan kesenian tradisional daerahnya, pengikisan nilai-nilai budaya nasional yang positif; (3) pengaruh positif strategi pendidikan berbasis budaya, yakni: mampu membangun sikap saling mengenal, memahami, menghayati dan bisa saling berkomunikasi antarwarga daerah, dapat menghargai kemajemukan, dapat mengembangkan sikap keterbukaan, kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif, dan memupuk kesadaran kebersamaan dalam mengarungi sejarah, serta dapat siap menghadapi arus perubahan.

Sumber:
Nur Rahmatika Adriyati dalam http://news.okezone.com/read/2009/08/24/1/250767/pasca-bentrok-sentani-masih-mencekam diakses tanggal 17 April 2012 pukul 09:45 WIB.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق