الجمعة، 8 نوفمبر 2013

SILABUS TEKS PENGUMUMAN SMP KELAS VII



S I L A B U S
Sekolah
: SMPN 1 BARAT
Mata Pelajaran
: Bahasa Indonesia
Kelas/Semester
: VII / 1
Standar Kompetensi
: Menulis

  4. Mengungkapkan pikiran dan pengalaman dalam buku harian dan surat pribadi



Kompetensi Dasar

Materi Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran
Indikator Pencapaian Kompetensi
Karakter Siswa yang Diharapkan
Penilaian

Alokasi Waktu

Sumber Belajar
Teknik Penilaian
Bentuk Instrumen
Contoh Instrumen
4.3 Menulis teks pengumuman dengan bahasa yang efektif, baik, dan benar
Penulisan teks pengumuman
a. Mengidentifikasi contoh teks pengumuman dan mendengarkan penjelasan materi
b. Mendiskusikan pokok-pokok pengumuman dan penulisan teks pengumuman
c.  Menyunting teks pengumuman



a.  Mampu menemukan pokok-pokok pengumuman


b.  Mampu  menulis teks pengumuman


c.  Mampu menyunting teks pengumuman





a. Cermat, dan teliti



b. Baik dan benar


c.  Cermat dan teliti
Tes




Tes



Tes









Tulis




Tulis



Tulis









a. Carilah pokok-pokok pengumuman dari teks pengumuman di bawah ini!
b. Berdasarkan ilustrasi di atas ubahlah menjadi sebuah pengumuman! Gunakan bahasa yang efektif.
c.  Suntinglah teks pengumuman yang kalian kerjakan!

2  x 40’
Nia Kurnia Wati Sapari. 2008. Kompetensi Berbahasa Indonesia untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Pembukuan Departemen Pendidikan Nasional

Maryati dan Sutopo. 2008. Bahasa dan Sastra Indonesia 1 untuk SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional, halaman 37-40.
Mengetahui
Guru Pamong


Rochman, S. Pd
NIP  19630206 198403 1 007
Magetan, 23 Oktober 2013
Mahasiswa Praktikan


Jumarni
NPM 10311050

الأربعاء، 10 أبريل 2013

CONTOH RESENSI NOVEL SAMAN

                                                  SAMAN

                     Oleh Jumarni
        (NPM 10311.050/PBSI/VIB) 
                
Judul                     : SAMAN
 Penulis                 : Ayu Utami
ISBN                     : 979 – 9023 – 17 – 3
Penerbit                 : Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia    
                                (KPG)
Cetakan                 : Desember 2003
                                         Tebal                     : ix, 198 halaman

         Saman adalah pemenang Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Ayu Utami adalah pengarang dari novel ini. Ia lahir di Bogor, 21 November 1968, besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Ayu Utami mendapat Prince Claus Award pada tahun 2000.
        Novel ini sangat istimewa karena pembicaraan tentang seks, agama, cinta, kultural, politik digambarkan secara gamblang sesuai dengan kondisi masyarakat pada zamannya. Selain itu, mengungkapkan batasan moralitas yang semu. Misalnya, mensunnahkan perselingkuhan, menganggap tugas hanya sebuah tameng di muka umum tanpa memikirkan pertanggungjawaban tugas itu kepada Tuhan YME. Cinta hanya dipandang dari arti yang sangat sempit, yakni cinta kepada lawan jenis.

SINOPSIS NOVEL
        Salah satu taman di Central Park adalah saksi bisu penantian Laila yang sekian lama menunggu Sihar setelah 22 April tahun lalu atau 402 hari. Kerinduannya pada Sihar hingga tercipta beberapa sajak. Kuingin mulut yang haus/ dari lelaki yang kehilangan masa remajanya/ di antara pasir-pasir tempat ia menyisir arus. Sebelumnya Laila dan Sihar berada di sebuah kamar hotel dan esoknya Sihar menghilang entah kemana.
         Laut Cina Selatan adalah tempat awal pertemuan Sihar dengan Laila. Saat itu Laila adalah rekan bisnis dari Rosano dan Sihar merupakan insinyur analis kandungan minyak atau lebih tepatnya adalah pegawai dari Rosano. Sihar begitu menawan sehingga mampu membuat Laila tergila-gila. Hal ini juga tampak ketika Laila membantu membersihkan lukanya. Kecerobohan Rosano mengambil keputusan yang mengakibatkan ketiga temannya tewas. Sihar sangat kecewa sehingga ia memukuli bangku mika di bandara yang kecil dengan tangannya.
        Percakapan keduanya menimbulkan hasrat untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan. Awalnya Sihar ragu karena Rosano bukan orang sembarangan. Ia bisa saja membungkam keluarga Hasyim dan polisi dengan uangnya. Namun, Laila berhasil menaklukan argumennya dengan mengusulkan Saman dan Yasmin selaku LSM untuk mendukung keluarga korban jika terjadi tekanan. Sehingga keduanya langsung ke Palembang untuk menemui keduanya. Sampai di sana ia, Sihar, Saman, dan Yasmin sering bertemu untuk membicarakan hal-hal yang menyangkut persidangan. Bulan-bulan berikutnya Saman dan Yasmin berhasil membongkar persoalan ini ke media massa. Dengan berbagai cara mereka lakukan akhirnya mereka mampu memenjarakan Rosano.
        Wisanggeni adalah nama asli Saman. Sebenarnya Wisanggeni lahir di Yogyakarta, tetapi saat usianya 4 tahun, bapaknya dipindah ke Perabumulih (Sumatera Selatan). Belakang rumah Wis menurut orang tuanaya dan warga sekitar adalah tempat angker yang dihuni berbagai hantu dan ular besar sehingga ia dilarang keras untuk menjamahnya.Ia selalu menuruti perintah ayahnya tersebut. Kematian kedua adiknya yang hilang misterius dan yang satunya mati pada hari ketiga membuatnya bertanya-tanya apakah ada kaitannya dengan hutan dibelakang rumah.Tapi, ia hanya bisa menangis dipelukan ayahnya ketika ia merasakan sesuatu.
          Lulus dari Institut Pertanian Bogor ia memutuskan untuk menjadi pastor. Kemudian ia meminta izin Romo Daru untuk ditugaskan di Perabumulih selain karena dia lulusan institut pertanian jadi banyak yang dikerjakan di perkebunan. Ia juga ingin memecahkan misteri hutan di belakang rumahnya.  Permohonannya dikabulkan. Setibanya di sana ia singgah dibekas rumahnya dulu. Ia menyampaikan maksud tujuannya kepada pemilik rumah baru itu. Kesantunannya membuat pemilik rumah bersedia membantunya jika ia memerlukan bantuannya. Namun, setelah kembali ke pastoran untuk istirahat ia merasa ada yang memanggilnya dari belakang. Ia berdoa dan berusaha mendekati suara itu.Seoragn gadis belasan tahunlah yang ia lihat. Dengan kejadian itu membawa Wis masuk ke dalam suatu perkampungan di tengah perkebunan kelapa sawit yang membuatnya merasa iba dan prihatin. Wis  merasa raga dan pikirannya sangat dibutuhkan untuk membantu mereka. Ia lebih sering berada di sana daripada di pastoran  
         Teguran dari pater lain karena ia sering meninggalkan pastoran tak membuat semangat Wis untuk menyelamatkan Upi dan warga desa dari permasalahan menurun. Ia justru mengirim surat kepada ayahnya untuk meminta modal agar ia bisa membangun fasilitas yang meringankan warga Lubukrantau misalnya membuatkan jaringan listrik dan alat pengolahan getah lateks. Namun, hambatan Wis tidak hanya masalah modal tetapi yang lebih kronis lagi yakni ancaman dari pihak pabrik kelapa sawit yang ingin menguasai tanah warga dengan mencari keuntungan pribadi dan mengabaikan kesejahteraan warga. Berbagai bentuk teror dilakukan pihak pabrik untuk mengikis ketegaran warga desa termasuk Wis. Misalnya, pemerkosaan, pembakaran rumah-rumah warga dan lain-lain. Disaat Wis mulai ragu dengan tindakannya, Anson justru semakin semangat untuk membakar pabrik dan pos-pos polisi pabrik kelapa sawit setelah istrinya diperkosa salah satu satpam pabrik. Saat Anson pergi meninggalkan rumah asap beserta warga lain. Wis tiba-tiba didatangi 5 lelaki berperawakan polisi. Wis diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil setelah itu disekap dan dianiaya selayaknya teroris. Empat belas sudah ia disiksa rasanya ia ingin mati saja tapi tiba-tiba tercium gas karbondioksida. Anson datang menyelamatkannya dan ia juga tidak tahu kalau Wis berada dalam ruangan di pabrik kelapa sawit itu. Setelah kejadian itu status mereka kini buron. Wis akhirnya mengganti namanya menjadi Saman. Saman dibantu sahabat-sahabatnya yakni Tala, Cok, Laila,  dan Yasmin pergi dari Indonesia. Romantisme cinta Yasmin dan Saman begitu indah ketika saat-saat kepergiannya kepengasingan padahal Yasmin sudah bersuami dan Saman adalah seorang pastor.
                                                                           ****
         Dengan membaca sekaligus memahami novel Saman secara utuh yang mana novel ini mengarah pada free seks. Cinta  atau melakukan hubungan seks kepada seseorang yang haram untuk dicintai (sudah beristri atau bersuami). Melakukan hubungan seks sebelum menikah. Seorang pastor yang suci melakukan hubungan seks dengan wanita yang sudah bersuami. Selain itu, novel ini sangat diperuntukkan bagi pembaca yang dewasa. Baik dari dimensi politik, antropologi sosial, terutama agama dan lain-lain.



الثلاثاء، 12 مارس 2013

Studi Kasus Ilmu Sosial Budaya Dasar


Pasca-Bentrok, Sentani Masih Mencekam

JAYAPURA - Dua hari pascabentrokan berdarah antar suku Yahim Sentani dan suku Pegunungan Papua, situasi kampung Yahim Sentani hingga siang ini masih mencekam.

Pantauan okezone di lapangan, Senin (24/8/2009), sejumlah warga masih berjaga-jaga disekitar tempat bentrokan. Polisi juga nampak masih bersiaga di jalan-jalan sekitar kampung Yahim, Sentan.

Warga yang berjaga-jaga di depan rumah nampak membawa
 peralatan perang tradisional seperti panah, tombak, dan parang. Sementara itu, warga pendatang lainnya yang sejak Minggu malam kemarin mengungsi keluar dari kampung Yahim, hingga kini belum berani kembali karena khawatir akan ada serangan susulan oleh massa dari suku Pegunungan.

Rencananya, hari ini kedua Kepala Suku akan bertemu untuk membicarakan jalan keluar dari konflik. Warga kampung Yahim mengaku masih menunggu salah satu korban luka luka tikam yang saat ini masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Dok Dua Jayapura.

PEMBAHASAN

Kasus di atas mengenai bentrok antar suku Yahim Sentani dan suku Pegunungan Papua yang masih mencekam, meskipun peristiwa tersebut telah berakhir. Terlihat masih tampak sejumlah warga yang berjaga-jaga dengan membawa peralatan perang tradisional dan polisi yang  juga masih bersiaga di jalan-jalan sekitar kampung Yamin, Sentani. Sementara itu, warga pendatang lain masih mengungsi karena khawatir akan ada serangan susulan oleh massa dari suku Pegunungan. Meskipun, rencananya kedua kepala suku akan bertemu untuk membicarakan jalan keluar dari konflik tersebut.
Berbagai  upaya yang dapat dilakukan agar peristiwa di atas tidak terjadi lagi, antara lain: (1) membangun kehidupan multikultural yang sehat dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya. Misalnya, peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebhinekaan budaya, memupuk dan mengembangkan kegiatan, keberanian melakukan perantauan budaya, pemahaman lintas budaya, pembelajaran lintas budaya; (2) peningkatan peran media sebagai mediator antar budaya dengan menampilkan berbagai informasi yang apresiatif terhadap budaya masyarakat lain; (3) strategi pendidikan yang berbasis budaya, yakni menggunakan model dan strategi pembelajaran yang menyeimbangkan proses homonisasi dengan humanisasi. Homonisasi melihat manusia sebagai makhluk hidup dalam konteks lingkungan ekologi, yang memerlukan terasahnya kemampuan intelektual untuk menghadapi tantangan global. Pendidikan sebagai proses humanisasi menekankan manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai otonomi moral, sensitivitas dan kedaulatan budaya.
Pengaruh yang ditimbulkan dari beberapa upaya di atas adalah: (1) pengaruh positif membangun kehidupan multikultural yang sehat dengan meningkatkan toleransi dan apresiasi antarbudaya, yakni: mampu menegakkan prinsip kesetaraan/kesederajatan antarmasyarakat, mampu mengelola konflik, yang mungkin timbul dari situasi keragaman agar tidak mengarah pada kekerasan, sehingga pada akhirnya dapat terwujud cita-cita bersama yang dilandaskan pada nilai-nilai kemanusiaan, menghilangkan penyakit-penyakit budaya yakni etnosentrisme stereotip, prasangka, rasisme, diskriminasi, scape goating; (2) pengaruh positif media massa, yakni: kontribusi dalam menyebarluaskan dan memperkuat kesepahaman antarwarga, pemahaman terhadap adanya kemajemukan sehingga melahirkan penghargaan terhadap budaya lain, sebagai ajang publik dalam mengaktualisasikan aspirasi yang seragam, sebagai alat kontrol publik masyarakat dalam mengendalikan seseorang, kelompok, golongan, atau lembaga dari perbuatan sewenang-wenang, meningkatkan kesadaran terhadap persoalan sosial, politik, dan persoalan lain di lingkungannya; pengaruh negatif media massa yakni: terpinggirkannya kesenian asli Indonesia karena masyarakat banyak disuguhi tawaran hiburan dan informasi yang lebih beragam dan lebih menarik dibandingkan dengan kesenian tradisional daerahnya, pengikisan nilai-nilai budaya nasional yang positif; (3) pengaruh positif strategi pendidikan berbasis budaya, yakni: mampu membangun sikap saling mengenal, memahami, menghayati dan bisa saling berkomunikasi antarwarga daerah, dapat menghargai kemajemukan, dapat mengembangkan sikap keterbukaan, kedewasaan sikap, pemikiran global yang bersifat inklusif, dan memupuk kesadaran kebersamaan dalam mengarungi sejarah, serta dapat siap menghadapi arus perubahan.

Sumber:
Nur Rahmatika Adriyati dalam http://news.okezone.com/read/2009/08/24/1/250767/pasca-bentrok-sentani-masih-mencekam diakses tanggal 17 April 2012 pukul 09:45 WIB.

Dwi Tologi Cerpen


Torehan Cinta Sang Bunda



      NYAI RAKIYEM, nenek tua yang suka  nyusur (menjejali mulutnya dengan sirih, gambir, dan tembakau) selalu memakai baju kemben dan rok jarik (kain batik), rambut di gelung (diikat tapi tidak memakai jepit), serta tidak pernah memakai alas kaki. Ia selalu tinggal sendiri di gubug yang tampak kumuh dan reyot. Di dalam rumah hanya ada beberapa peralatan yakni: sebuah tungku yang terbuat dari tanah, kayu bakar  yang ia cari di hutan, satu piring, satu sendok yang tampak lusuh, dan beberapa peralatan dapur lain tertata di atas meja tempat ia biasa makan.
      Setiap hari ia hanya ke ladang untuk menanam kedelai, jagung, atau singkong. Walau ambane tegalan (luas ladang) hanya seklasa (seluas tikar), tapi yang penting bisa membuat ia tidak sampai kelaparan. Sekitar jam sembilan ia baru pulang ke rumah, setelah itu ia mandi dan memasak nasi. Ia harus berjalan 1 km menuju sendang (sumber air) untuk mandi dan memasak. Ia jarang sekali makan sayur dan lauk-pauk. Akan tetapi ia juga tidak menolak apabila tetangga memberi sayur dan lauk dalam keadaan mentah atau matang. Atau ketika ada uang lebih, pemberian tetangganya ia baru bisa membeli lauk sendiri. Tiap harinya ia hanya makan dengan sambal. Setelah makan siang ia berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ia berjalan dengan memakai sebuah tongkat untuk menyeimbangkan tubuhnya. Lututnya selalu sakit jika ia tidak membawa tongkat ketika berjalan.
       Kedua anaknya Joko dan Rani tidak bersamanya lagi. Sejak kecil mereka diasuh oleh tetangganya, karena Nyi Rakiyem saat itu sudah dalam keadaan sendiri sehingga ia tak mampu lagi untuk mengurusi kedua anaknya. Suaminya minggat setelah ia melahirkan anak keduanya. Kebetulan tetangganya ini juga tidak dikaruniai anak, sehingga ia mau mengangkatnya sebagai anak. Pak Sukri dan ibu Deden namanya, meskipun keduanya hidup serba kekurangan tapi ia sangat sayang dan perhatian kepada keduanya, segala keinginan mereka selalu dituruti. Mereka juga patuh kepadanya. Pak Sukri bekerja sebagai tukang kayu dan ibu Deden bekerja sebagai buruh memasak di rumah tetangganya tapi ia juga bisa menyekolahkan keduanya sampai Perguruan Tinggi. Kadang sebelum berangkat sekolah, mereka selalu berpamitan juga dengan Nyai Rakiyem.
        Setelah selesai kuliah Joko menyampaikan keinginannya untuk menikah. Setahun kemudian Rani juga menerima pinangan dari  anak seorang pengusaha bakso. Setelah menikah Joko dan Rani tidak pernah lagi datang ke kampung halamannya tempat orang tua kandung dan angkatnya berada. Nyi Rakiyem belakangan ini sering sakit-sakitan. Tak ada bayangan lain selain kedua anaknya.

                                         ***

       BERITA di televisi hari ini sangat meruntuhkan hati Joko, ibu yang melahirkannya meninggal karena kelaparan dan sudah 2 hari mati di rumahnya sendiri. Tetangga tahu setelah mencium bau bangkai dari rumah Nyi Rakiem dan sudah 2 hari lampu di depan rumahnya tidak dimatikan. Joko langsung syok dan hampir ia tak kuat untuk berdiri, syaraf-syarafnya seakan lumpuh total. Ia ingin meraih gagang telepon disampingnya, tapi tak mampu semua tampak hitam dan hilang.
    “Yah,,,bangun!” tiba-tiba Cika datang untuk membangunkan ayahnya tapi tak kunjung bangun. Akhirnya ia menangis memanggil mamanya.
      Setelah diberi minyak kayu putih oleh Emi istrinya, Joko bisa bangun lagi dan ia langsung meminta tolong istrinya untuk menelpon Rani. Ia ingin segera memberitahukan kondisi ibu kandungnya dan mengajaknya untuk segera pulang kampung agar bisa mengantarkan ibunya ke tempat peristirahatan yang terakhir.
      “Assalammualaikum”
      “Wassalammualaikum”
      “Hallo Ran,, ini masmu ayo kita jenguk Ibu ya”
      “Mang da pa dengan ibuk mas? Kok mendadak kesana?”
     “Ibu sakit ja ogg “ ucap Joko. Ia tidak ingin adiknya kaget dengan kabar kematian ibunya, sehingga ia berbohong.
      “Inalillahi, ya kita sekarang kesana mas”
      “Ya dek”
     Dengan mengendarai sebuah mobil sedannya Joko dan Rani berserta keluarganya masing-masing berangkat menuju kampung halaman.  Setelah 3 jam akhirnya mereka sampai di rumah. Akan tetapi, tetap saja ia tidak dapat ikut memakamkan jenazah ibunya, warga memutuskan untuk memakamkannya tanpa menunggu kedatangan kedua anaknya karena kondisi ibunya sudah tidak mungkin untuk  ditunda.
      Rani tampak bingung melihat banyak orang di rumah ibunya dan terlihat ada kursi dan terop di depan rumahnya, tong air serta pecahan kendi (tempat air minum yang terbuat dari tanah liat).
    “Da pa mas sebenarnya?”
    “Aku minta maaf karena aku tadi sempat berbohong, sebenarnya ibu kandung kita sudah meninggal.”
  Rani langsung menangis sejadi-jadinya dan langsung banyak warga kampung merangkulnya untuk dibawa ke dalam rumah, tapi ia menolaknya ia ingin segera pergi ke tempat pemakaman ibunya.
      Saat itu juga mereka langsung menuju tempat pemakaman untuk mendoakan dan meminta maaf karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan dihari kematiannya pun mereka tidak ada. Banyak tetangga yang berdatangan mengucapkan belasungkawa kepadanya, sore harinya setelah acara kirim doa yang dilakukan para santri di kampung itu berakhir.
      Setelah genap 7 hari, mereka sepakat untuk pulang lagi dan setelah berbicara dengan orang tua angkatnya mereka memutuskan untuk membangun sebuah mushola di rumah ibunya tersebut agar dapat menjadi amal jariyah untuk ibunya. Semua biaya pembangunannya akan di tanggung oleh Joko.




Sesalku



      PAGI ini dunia tersenyum langit pun cerah,,,,sang mentari tak malu-malu lagi menampakkan sinarnya. Menyinari jagad raya ini karena tanpanya pasti tak ada kehidupan. Burung-burung beterbangan seolah tanpa beban mencari makan dengan santainya. Para petani sudah asyik bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk memperoleh sesuap nasi walaupun sering dipermainkan oleh para elit politik.
      Akan tetapi, tak begitu dengan Regiya gadis yang dulu sangat periang kini ia tampak muram dan hanya bisa berbaring di kamarnya yang terlihat acak-acakan, beralaskan tikar, dan ia hanya berselimutkan sebuah jarik, kain tipis yang bercorak batik. Ia memang tampak putus asa dan selalu marah-marah jika teringat kaki kirinya telah diamputasi.
       “Sing sabar nduk,,,ini adalah ujianmu, sampean harus sabar, nrima lan berdoa. Ojo nesu-nesu ae, istighfar nduk,” kata sang ibu dengan raut wajah yang sedih karena anaknya selalu marah-marah ketika ingat kakinya telah diamputasi.
      “Aku salah apa mbok, kok Gusti Allah, midana aku kayak ngene?
      “Sing sabar nduk, jupuk hikmahe ae.”
     Sesekali ia terlihat menyesali perbuatannya karena kejadian ini tidak akan terjadi jika ia mematuhi perintah orang tuanya. Ia selalu membangkang semua perkataan orang tuanya. Sering tidak masuk sekolah, dan kegiatan-kegiatan penyimpangan lain yang dilakukan oleh remaja.

                                                                                 ***

     “RE, tadi ibu mendapat surat panggilan dari sekolahmu yang diantarkan Ela, katanya besok pagi ibu harus ke sekolahmu.”
       “Gak usah datang, mbok! Paling yo suruh mbayar tok!”
     Padahal surat panggilan tersebut untuk memberitahukan bahwa Regiya sudah tidak masuk selama 20 hari tanpa alasan meskipun tidak berturut-turut. Namun, sampai surat yang kesekian kalinya ibu Regiya tetap tidak datang ke sekolah untuk memenuhi permintaan  sekolah.  Regiya setiap pagi juga berangkat ke sekolah dan pulang malam katane ada rapat organisasi.
“Nduk masak tiap hari pulang malam terus ta?”
“Ya mbok, ada rapat organisasi, bulan depan mau ada acara di sekolah.”
“Ya, gak pa pa kalau memang urusan sekolah.”
    Alasan demi alasan ia ucapkan setiap hari untuk menutupi kebohongannya. Namun, nggak lama setelah itu, ketika ibu Regiya masih menanak arem-arem tepatnya pukul 11.45.
“Tok..tok..tok.”
Ibu kaget dan penasaran kenapa jam segini masih ada yang mau bertamu. Setelah suaminya meninggal dunia ia tak pernah lagi kedatangan tamu malam-malam. Apalagi anaknya Regiya sudah pamit tadi sore untuk menginap di rumah temannya dan temanya sudah telepon kalau Regiya sudah sampai di rumahnya.
“Selamat malam, bu. Apa benar ini rumah saudara Regiya?”
“Ya, Pak. Ada keperluan apa ya Pak?”
“Maaf, bu. Anak ibu yang bernama Regiya Ernawati kecelakaan karena July orang yang memboncengnya mabuk berat dan menabrak pembatas jalan. Anak ibu masih di rawat di RSU Soetomo.”
    Setelah polisi pergi dengan perasaan nggak karu-karuan Ibu mencoba menerima dengan ikhlas, cobaan yang diterima dari Tuhan kepadanya. Ia langsung mengambil uang dan tasnya. Kemudian meminta tolong Jeki, tetangganya untuk mengantarkan ke RSU tempat Regiya dirawat.
     Sampai di RSU dokter menyuruhnya untuk menandatangi surat izin bahwa salah satu kaki Regiya harus diamputasi karena kerusakannya sangat parah. Tanpa pikir panjang ia langsung menandatangani surat tersebut. Kata dokter soal biaya akan ditanggung pemerintah jika ibu mau mengurusi surat-surat yang diperlukan.