Powered By Blogger

الثلاثاء، 12 مارس 2013

Dwi Tologi Cerpen


Torehan Cinta Sang Bunda



      NYAI RAKIYEM, nenek tua yang suka  nyusur (menjejali mulutnya dengan sirih, gambir, dan tembakau) selalu memakai baju kemben dan rok jarik (kain batik), rambut di gelung (diikat tapi tidak memakai jepit), serta tidak pernah memakai alas kaki. Ia selalu tinggal sendiri di gubug yang tampak kumuh dan reyot. Di dalam rumah hanya ada beberapa peralatan yakni: sebuah tungku yang terbuat dari tanah, kayu bakar  yang ia cari di hutan, satu piring, satu sendok yang tampak lusuh, dan beberapa peralatan dapur lain tertata di atas meja tempat ia biasa makan.
      Setiap hari ia hanya ke ladang untuk menanam kedelai, jagung, atau singkong. Walau ambane tegalan (luas ladang) hanya seklasa (seluas tikar), tapi yang penting bisa membuat ia tidak sampai kelaparan. Sekitar jam sembilan ia baru pulang ke rumah, setelah itu ia mandi dan memasak nasi. Ia harus berjalan 1 km menuju sendang (sumber air) untuk mandi dan memasak. Ia jarang sekali makan sayur dan lauk-pauk. Akan tetapi ia juga tidak menolak apabila tetangga memberi sayur dan lauk dalam keadaan mentah atau matang. Atau ketika ada uang lebih, pemberian tetangganya ia baru bisa membeli lauk sendiri. Tiap harinya ia hanya makan dengan sambal. Setelah makan siang ia berangkat ke hutan untuk mencari kayu bakar. Ia berjalan dengan memakai sebuah tongkat untuk menyeimbangkan tubuhnya. Lututnya selalu sakit jika ia tidak membawa tongkat ketika berjalan.
       Kedua anaknya Joko dan Rani tidak bersamanya lagi. Sejak kecil mereka diasuh oleh tetangganya, karena Nyi Rakiyem saat itu sudah dalam keadaan sendiri sehingga ia tak mampu lagi untuk mengurusi kedua anaknya. Suaminya minggat setelah ia melahirkan anak keduanya. Kebetulan tetangganya ini juga tidak dikaruniai anak, sehingga ia mau mengangkatnya sebagai anak. Pak Sukri dan ibu Deden namanya, meskipun keduanya hidup serba kekurangan tapi ia sangat sayang dan perhatian kepada keduanya, segala keinginan mereka selalu dituruti. Mereka juga patuh kepadanya. Pak Sukri bekerja sebagai tukang kayu dan ibu Deden bekerja sebagai buruh memasak di rumah tetangganya tapi ia juga bisa menyekolahkan keduanya sampai Perguruan Tinggi. Kadang sebelum berangkat sekolah, mereka selalu berpamitan juga dengan Nyai Rakiyem.
        Setelah selesai kuliah Joko menyampaikan keinginannya untuk menikah. Setahun kemudian Rani juga menerima pinangan dari  anak seorang pengusaha bakso. Setelah menikah Joko dan Rani tidak pernah lagi datang ke kampung halamannya tempat orang tua kandung dan angkatnya berada. Nyi Rakiyem belakangan ini sering sakit-sakitan. Tak ada bayangan lain selain kedua anaknya.

                                         ***

       BERITA di televisi hari ini sangat meruntuhkan hati Joko, ibu yang melahirkannya meninggal karena kelaparan dan sudah 2 hari mati di rumahnya sendiri. Tetangga tahu setelah mencium bau bangkai dari rumah Nyi Rakiem dan sudah 2 hari lampu di depan rumahnya tidak dimatikan. Joko langsung syok dan hampir ia tak kuat untuk berdiri, syaraf-syarafnya seakan lumpuh total. Ia ingin meraih gagang telepon disampingnya, tapi tak mampu semua tampak hitam dan hilang.
    “Yah,,,bangun!” tiba-tiba Cika datang untuk membangunkan ayahnya tapi tak kunjung bangun. Akhirnya ia menangis memanggil mamanya.
      Setelah diberi minyak kayu putih oleh Emi istrinya, Joko bisa bangun lagi dan ia langsung meminta tolong istrinya untuk menelpon Rani. Ia ingin segera memberitahukan kondisi ibu kandungnya dan mengajaknya untuk segera pulang kampung agar bisa mengantarkan ibunya ke tempat peristirahatan yang terakhir.
      “Assalammualaikum”
      “Wassalammualaikum”
      “Hallo Ran,, ini masmu ayo kita jenguk Ibu ya”
      “Mang da pa dengan ibuk mas? Kok mendadak kesana?”
     “Ibu sakit ja ogg “ ucap Joko. Ia tidak ingin adiknya kaget dengan kabar kematian ibunya, sehingga ia berbohong.
      “Inalillahi, ya kita sekarang kesana mas”
      “Ya dek”
     Dengan mengendarai sebuah mobil sedannya Joko dan Rani berserta keluarganya masing-masing berangkat menuju kampung halaman.  Setelah 3 jam akhirnya mereka sampai di rumah. Akan tetapi, tetap saja ia tidak dapat ikut memakamkan jenazah ibunya, warga memutuskan untuk memakamkannya tanpa menunggu kedatangan kedua anaknya karena kondisi ibunya sudah tidak mungkin untuk  ditunda.
      Rani tampak bingung melihat banyak orang di rumah ibunya dan terlihat ada kursi dan terop di depan rumahnya, tong air serta pecahan kendi (tempat air minum yang terbuat dari tanah liat).
    “Da pa mas sebenarnya?”
    “Aku minta maaf karena aku tadi sempat berbohong, sebenarnya ibu kandung kita sudah meninggal.”
  Rani langsung menangis sejadi-jadinya dan langsung banyak warga kampung merangkulnya untuk dibawa ke dalam rumah, tapi ia menolaknya ia ingin segera pergi ke tempat pemakaman ibunya.
      Saat itu juga mereka langsung menuju tempat pemakaman untuk mendoakan dan meminta maaf karena tidak bisa menjadi anak yang berbakti kepada orang tua dan dihari kematiannya pun mereka tidak ada. Banyak tetangga yang berdatangan mengucapkan belasungkawa kepadanya, sore harinya setelah acara kirim doa yang dilakukan para santri di kampung itu berakhir.
      Setelah genap 7 hari, mereka sepakat untuk pulang lagi dan setelah berbicara dengan orang tua angkatnya mereka memutuskan untuk membangun sebuah mushola di rumah ibunya tersebut agar dapat menjadi amal jariyah untuk ibunya. Semua biaya pembangunannya akan di tanggung oleh Joko.




Sesalku



      PAGI ini dunia tersenyum langit pun cerah,,,,sang mentari tak malu-malu lagi menampakkan sinarnya. Menyinari jagad raya ini karena tanpanya pasti tak ada kehidupan. Burung-burung beterbangan seolah tanpa beban mencari makan dengan santainya. Para petani sudah asyik bekerja membanting tulang, memeras keringat untuk memperoleh sesuap nasi walaupun sering dipermainkan oleh para elit politik.
      Akan tetapi, tak begitu dengan Regiya gadis yang dulu sangat periang kini ia tampak muram dan hanya bisa berbaring di kamarnya yang terlihat acak-acakan, beralaskan tikar, dan ia hanya berselimutkan sebuah jarik, kain tipis yang bercorak batik. Ia memang tampak putus asa dan selalu marah-marah jika teringat kaki kirinya telah diamputasi.
       “Sing sabar nduk,,,ini adalah ujianmu, sampean harus sabar, nrima lan berdoa. Ojo nesu-nesu ae, istighfar nduk,” kata sang ibu dengan raut wajah yang sedih karena anaknya selalu marah-marah ketika ingat kakinya telah diamputasi.
      “Aku salah apa mbok, kok Gusti Allah, midana aku kayak ngene?
      “Sing sabar nduk, jupuk hikmahe ae.”
     Sesekali ia terlihat menyesali perbuatannya karena kejadian ini tidak akan terjadi jika ia mematuhi perintah orang tuanya. Ia selalu membangkang semua perkataan orang tuanya. Sering tidak masuk sekolah, dan kegiatan-kegiatan penyimpangan lain yang dilakukan oleh remaja.

                                                                                 ***

     “RE, tadi ibu mendapat surat panggilan dari sekolahmu yang diantarkan Ela, katanya besok pagi ibu harus ke sekolahmu.”
       “Gak usah datang, mbok! Paling yo suruh mbayar tok!”
     Padahal surat panggilan tersebut untuk memberitahukan bahwa Regiya sudah tidak masuk selama 20 hari tanpa alasan meskipun tidak berturut-turut. Namun, sampai surat yang kesekian kalinya ibu Regiya tetap tidak datang ke sekolah untuk memenuhi permintaan  sekolah.  Regiya setiap pagi juga berangkat ke sekolah dan pulang malam katane ada rapat organisasi.
“Nduk masak tiap hari pulang malam terus ta?”
“Ya mbok, ada rapat organisasi, bulan depan mau ada acara di sekolah.”
“Ya, gak pa pa kalau memang urusan sekolah.”
    Alasan demi alasan ia ucapkan setiap hari untuk menutupi kebohongannya. Namun, nggak lama setelah itu, ketika ibu Regiya masih menanak arem-arem tepatnya pukul 11.45.
“Tok..tok..tok.”
Ibu kaget dan penasaran kenapa jam segini masih ada yang mau bertamu. Setelah suaminya meninggal dunia ia tak pernah lagi kedatangan tamu malam-malam. Apalagi anaknya Regiya sudah pamit tadi sore untuk menginap di rumah temannya dan temanya sudah telepon kalau Regiya sudah sampai di rumahnya.
“Selamat malam, bu. Apa benar ini rumah saudara Regiya?”
“Ya, Pak. Ada keperluan apa ya Pak?”
“Maaf, bu. Anak ibu yang bernama Regiya Ernawati kecelakaan karena July orang yang memboncengnya mabuk berat dan menabrak pembatas jalan. Anak ibu masih di rawat di RSU Soetomo.”
    Setelah polisi pergi dengan perasaan nggak karu-karuan Ibu mencoba menerima dengan ikhlas, cobaan yang diterima dari Tuhan kepadanya. Ia langsung mengambil uang dan tasnya. Kemudian meminta tolong Jeki, tetangganya untuk mengantarkan ke RSU tempat Regiya dirawat.
     Sampai di RSU dokter menyuruhnya untuk menandatangi surat izin bahwa salah satu kaki Regiya harus diamputasi karena kerusakannya sangat parah. Tanpa pikir panjang ia langsung menandatangani surat tersebut. Kata dokter soal biaya akan ditanggung pemerintah jika ibu mau mengurusi surat-surat yang diperlukan.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق