الجمعة، 8 فبراير، 2013

MAKALAH FUNGSI MANAJEMEN: ACTUATING (PENGGERAKAN)

  MAKALAH FUNGSI MANAJEMEN: ACTUATING (PENGGERAKAN) 
Dosen Pengampu: Dr. V. Teguh Suharto Mata Kuliah: Manajemen Pendidikan
Oleh:
Mahardi Cahya P. 10311049
Jumarni 10311050
Ahyan Aziz 10311081
Kurnia Dermawaning Tyas 10311083
PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
IKIP PGRI MADIUN
2013

KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih karunia-Nya makalah fungsi manajemen: actuating (penggerakan) yang dibimbing oleh Dr. V. Teguh Suharto ini dapat diselesaikan sebagai salah satu tugas mata kuliah Manajemen Pendidikan. 
Makalah ini berisi tentang pengertian actuating (penggerakan), fungsi dan peranan actuating, pengaplikasian actuating dalam pendidikan, serta pentingnya actuating dalam organisasi. 
Kami menyadari bahwa Tuhanlah sumber segala ilmu pengetahuan sehingga kami merasa memiliki kekurangan dalam penulisan makalah ini, untuk itu kami membutuhkan saran dan kritik agar makalah ini menjadi lebih baik. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca. 
Madiun,7 Januari 2013 
Penyusun
BAB I 
PENDAHULUAN 
A.Latar Belakang Masalah
Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalah persoalan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Dari berbagai pengamat dan analisis, ada berbagai faktor yang menyebabkan mutu pendidikan kita mengalami peningkatan secara merata. 1) Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasional menggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisis yang tidak dilaksanakan secara konsekuen. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratissentralistik, sehingga meningkat sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan yang tergantung pada keputusan birokrasi-birokrasi. Ketiga, minimnya peranan masyarakat khususnya orang tua sisiwa dalam penyelenggaraan pendidikan, pratisipasi orang tua selama ini dengan sebatas pendukung dana, tapi tidak dilibatkan dalam proses pendidikan seperti mengambil keputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas, sehingga sekolah tidak memiliki beban dan tanggung jawab hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat/orang tua sebagai stake holder yang berkepentingan dengan pendidikan. Keempat, krisis kepemimpinan, dimana kepala sekolah yang cenderung tidak demokratis, sistem top down policy baik dari kepala sekolah terhadap guru atau birokrasi diatas kepala sekolah terhadap sekolah. 
2) Munculnya paradigma guru tentang manajemen berbasis sekolah yang bertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisien dan berkualitas. 3) Kepemimpinan adalah cara seseorang pemimpin mempengaruhi perilakubawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuanorganisasi. Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil kepurusan maka akan mengakibatkan adanya disharmonisasi hubungan anatara pemimpin dan yang dipimpin. Salah satu solusinya adalah dengan dikeluarkannya UU no.32 tahun 2004 yaitu undang-undang otonomi daerah yang kemudian diatur oleh PP no. 33 tahun 2004 yaitu adanya penggeseran kewenangan dan pemerintah pusat ke pemda dalam berbagai bidang termasuk bidang pendidikan kecuali agama, politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter dan fiskal. Pemberian otonomi tersebut dimaksudkan agar lembaga sekolah memiliki kebebasan dan kemandirian mengelola lembaganya agar mampu berkembang sesuai dengan potensi dan kekhususan-kekhususan yang dimiliki daerah serta memiliki relevansi yang tinggi dan kemanfaatan optimal bagi pembangunan di daerah. Pemberian otonomi demikian dengan segala implikasinya dianggap merupakan langkah maju yang bertujuan untuk menciptakan efektifitas penyelenggaraan pendidikan di daerah dengan bersumber kepada pemanfaatan potensi, kekhasan, dan kreativitas dari para penyelenggara pendidikan di daerah. Implementsi otonomi sekolah ini juga salah satunya tercermin dengan diberlakukannya UU No. 20/2005 yang memberikan kebebasan kepada sekolah untuk menyusun kurikulumnya sendiri yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai ganti dari Kurikulum 2004. Dengan adanya amanat otonomi dari undang- undang tersebut perangkat manajemen di sekolah bukan lagi sekedar sebagai pelaksana dari birokrasi pusat sebagaimana era sebelumnya, melainkan berposisi sebagai agen yang mandiri yang bertanggung jawab atas pengelolaan sekolah sesuai dengan tugas dan fungsi manajemen (planning, organizing, actuating, controlling) dengan memperhatikan potensi dan kekhasan yang dimiliki. Namun, pada pembahasan kali ini peneliti hanya membahas mengenai actuating (penggerakan).
B.Rumusan Masalah
1.Apakah pengertian dari actuating (penggerakan)? 
2. Sebutkan fungsi dan peranan actuating (penggerakan)? 
3.Bagaimanakah pengaplikasian actuating (penggerakan) dalam pendidikan? 
4.Apakah pentingnya actuating (penggerakan) dalam organisasi? 
C.Tujuan Penelitian
1.Mengetahui pengertian dari actuating (penggerakan). 
2.Mengetahui fungsi dan peranan actuating (penggerakan). 
3.Mengetahui pengaplikasian actuating (penggerakan) dalam pendidikan. 
4.Mengetahui pentingnya actuating (penggerakan) dalam organisasi. 
D.Manfaat Penelitian
1.Menambah wawasan dan pengetahuan mengenai actuating (penggerakan). 
2.Lebih meningkatkan jiwa manajemen pada diri mahasiswa melalui actuating (penggerakan).
BAB II 
PEMBAHASAN
A. Pengertian Actuating (Penggerakan)
Fungsi-fungsi manajemen menurut George R. Terry (Disingkat POAC) dalam Mulyono (2008:23), yaitu “planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), actuating (penggerakan),controlling (pengendalian)”. Dalam hal ini, George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa, “Actuating merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian rupa hingga mereka berkeinginan dan berusaha untuk mencapai sasaran perusahaan dan sasaran anggota-anggota perusahaan tersebut oleh karena para anggota itu juga ingin mencapai sasaran-sasaran tersebut.” Jadi actuating adalah usaha menggerakkan seluruh orang yang terkait, untuk secara bersama-sama melaksanakan program kegiatan sesuai dengan bidang masing-masing dengan cara yang terbaik dan benar. Actuating merupakan fungsi yang paling fundamental dalam manajemen, karena merupakan pengupayaan berbagai jenis tindakan itu sendiri, agar semua anggota kelompok mulai dari tingkat teratas sampai terbawah, berusaha mencapai sasaran organisasi sesuai rencana yang telah ditetapkan semula, dengan cara terbaik dan benar. Memang diakui bahwa usaha-usaha perencanaan dan pengorganisasian bersifat vital, tetapi tidak akan ada output konkrit yang akan dihasilkan sampai kita mengimplementasi aktivitas-aktivitas yang diusahakan dan yang diorganisasi. Untuk maksud itu maka diperlukan tindakan penggerakan (actuating) atau usaha untuk menimbulkan action. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam penggerakan (actuating) ini adalah bahwa seorang karyawan akan termotivasi untuk mengerjakan sesuatu jika : (1) merasa yakin akan mampu mengerjakan, (2) yakin bahwa pekerjaan tersebut memberikan manfaat bagi dirinya, (3) tidak sedang dibebani oleh problem pribadi atau tugas lain yang lebih penting, atau mendesak, (4) tugas tersebut merupakan kepercayaan bagi yang bersangkutan dan (5) hubungan antar teman dalam organisasi tersebut harmonis. 
B.Fungsi dan Peranan Actuating (Penggerakan)
Pertama, adalah melakukan pengarahan (commanding), bimbingan (directing) dan komunikasi (communication) (Nawawi, 2000:95). Dijelaskan pula bahwa pengarahan dan bimbingan adalah kegiatan menciptakan, memelihara, menjaga/mempertahankan dan memajukan organisasi melalui setiap personil, baik secara struktural maupun fungsional, agar langkah operasionalnya tidak keluar dari usaha mencapai tujuan organisasi (Nawawi, 2000 : 95). Kedua, penggerakan (actuating) tidak lain merupakan upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian agar setiap karyawan dapat melaksanakan kegiatan secara optimal sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya. 
C.Pengaplikasian Actuating dalam Pendidikan
Adalah pengarahan dan pemotivasian seluruh personil pada setiap kegiatan pendidikan di sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Kegiatan pendidikan tersebut yakni sebagai berikut: 1. Manajemen kurikulum, 2. Manajemen ketenagaan pendidikan (kepegawaian), 3. Manajemen peserta didik, 4. Manajemen sarana dan prasarana, 5. Manajemen keuangan/pembiayaan pendidikan, 6. Manajemen administrasi perkantoran, 7. Manajemen unit-unit penunjang pendidikan, 8. Manajemen layanan khusus pendidikan, 9. Manajemen tata lingkungan dan keamanan, 10. Manajemen hubungan dengan masyarakat, (Mulyono, 2008:168-170). 
D. Pentingnya Actuating dalam Organisasi
Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. Semua sumber daya manusia yang ada harus dioptimalkan untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi. Setiap SDM harus bekerja sesuai dengan tugas, fungsi dan peran, keahlian dan kompetensi masing-masing SDM untuk mencapai visi, misi dan program kerja organisasi yang telah ditetapkan.
BAB III
 PENUTUP 
         A. Simpulan
Actuating adalah usaha menggerakkan seluruh orang yang terkait, untuk secara bersama-sama melaksanakan program kegiatan sesuai dengan bidang masing-masing dengan cara yang terbaik dan benar. Fungsi dan peranan actuating yakni pertama, melakukan pengarahan (commanding), bimbingan (directing) dan komunikasi (communication); kedua, upaya untuk menjadikan perencanaan menjadi kenyataan, dengan melalui berbagai pengarahan dan pemotivasian. Pengaplikasian actuating dalam pendidikan adalah pengarahan dan pemotivasian seluruh personil pada setiap kegiatan pendidikan di sekolah untuk selalu dapat meningkatkan kualitas kinerjanya. Fungsi actuating lebih menekankan pada kegiatan yang berhubungan langsung dengan orang-orang dalam organisasi. Perencanaan dan pengorganisasian yang baik kurang berarti bila tidak diikuti dengan penggerakan seluruh potensi sumber daya manusia dan nonmanusia pada pelaksanaan tugas. 
B. Saran
1. Semua guru sebagai anggota organisasi di sekolah sebaiknya mampu memaksimalkan tugasnya dalam berpartisipasi mewujudkan manajemen sekolah yang sesuai dengan cita-cita organisasi sekolah seutuhnya. 
2. Siswa sebaiknya lebih konsisten dan bertanggung jawab dalam tugas/kewajibannya sebagai pelajar agar dapat membantu mewujudkan tujuan organisasi sekolah. 
3. Pemerintah sebaiknya berpartisipasi untuk mewujudkan tujuan manajemen pendidikan seutuhnya baik itu berupa materil maupun nonmateril. 
DAFTAR PUSTAKA
Mulyono. 2008. Manajemen Administrasi dan Organisasi Pendidikan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. 
Actuating dalam wanvisioner.blogspot.com/2009/05/poac-planning-organizing-actuating-and.html diakses tanggal 20 Desember 2012 pukul 07.32 WIB.  
Actuating dalam www.sarjanaku.com/2010/06/resume-manajemen-pendidikan.html diakses tanggal 20 Desember 2012 pukul 07.45 WIB. 
Akhmad Sudrajat. 2008. Actuating dalam www.fileskripsi.com/2012/10/makalah-manajemen-pendidikan-sekolah.html diakses tanggal 20 Desember 2012 pukul 07.17 WIB. 
Arif Rahman Tanjung. 2006. Actuating dalam httpidb4.wikispaces.comfileviewdv4004.pdf diakses tanggal 20 Desember 2012 pukul 07.43 WIB. 
R.M.Lolowang. 2012. Actuating dalam httppublikasiilmiah.ums.ac.idbitstreamhandle1234567896872.%20LOLOWANG%20new.pdfsequence=1 diakses tanggal 20 Desember 2012 pukul 07.43 WIB.

ARTIKEL PEMANFAATAN BERITA DI KORAN KREASI ORIGAMI SEBAGAI MEDIA MENULIS PUISI BARU KELAS X

Pemanfaatan Berita di Koran dalam Kotak Kreasi Origami sebagai Media Menulis Puisi Baru Kelas X
(Oleh: Jumarni/PBSI/VB/10311050)
Abstrak
Learning a new poem in class today still limited to any theory or memorization. Media to be used researchers to enable students in learning to write a new poem by using origami creations boxes containing news from the newspaper. Learning to write a new poem with the news media in the paper in the box origami creations through several stages, which is as follows: 1) the formulation of learning objectives, 2) determination of teaching materials, and 3) the determination of the method of learning, 4) the selection of news events from newspapers and poetry models , 5) the implementation of new learning to write poetry.
keyword: news in the paper, a new poem, box origami creasi
A.Pendahuluan
Puisi adalah kata-kata terbaik dalam susunan yang terbaik, Jabrohim, et al (2009:1). Menurut Wirjosoedarmo dalam Rachmad Djoko Pradopo (1990:5) puisi itu adalah karangan yang terikat oleh: (1) banyak baris dalam tiap bait (kuplet/strova, suku karangan); (2) banyak kata dalam tiap baris; (3) banyak suku kata dalam tiap baris; (4) rima; (5) irama. Jadi, puisi itu adalah mengekspresikan pemikiran yang membangkitkan perasaan, yang merangsang imajinasi panca indera dalam susunan yang berirama. Tugas penyair yang terberat menurut Sapardi Djoko Damono dalam Jabrohim, et al (2009:2) adalah melawan kata-kata, untuk bisa menguasainya kemudian memurnikannya dan memberinya bobot.
Bahasa puisi mempunyai sifat yang ekspresif, sugestif, asosiatif, dan magis. Berikut ini adalah penjelasannya:
1.Ekspresif adalah setiap bunyi yang dipilih, setiap kata yang dipilih, dan setiap metafor yang dipergunakan harus berfungsi bagi kepentingan ekspresi, mampu memperjelas gambaran dan mampu menimbulkan kesan yang kuat. Setiap unsur bahasa yang dipilih dan dipergunakan harus turut membawakan nada, rasa dan pengalaman penyairnya.
2.Sugestif adalah bersifat menyarankan dan mempengaruhi pembaca atau pendengarnya secara menyenangkan dan tidak terasa memaksa. Karena sifat inilah puisi dapat berkesan sangat kuat dalam diri penikmatnya.
3.Asosiatif adalah mampu membangkitkan pikiran dan perasaan yang merembet, tetapi masih berkisar di seputar makna konvensionalnya atau makna konotatifnya yang sudah lazim.
4.Magis adalah bahasa puisi seolah-olah mempunyai kekuatan di dalamnya sehingga tampak magis dan bercahaya. Hal itu terjadi karena bahasa puisi memang telah diresapi emosi, mood, perasaan pribadi, kekaguman penyair, dan sebagainya.
Pada pembahasan kali ini peneliti akan membatasi masalah mengenai penulisan puisi baru. Pembelajaran puisi baru di kelas saat ini masih sebatas teori atau hafalan saja. Padahal teori tanpa praktik hanya bertahan beberapa menit saja dalam pikiran peserta didik. Kemampuan siswa dalam menulis puisi baru sangat menentukan seberapa jauh pemahaman siswa tentang materi menulis puisi baru. Selain hal di atas, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi ketidakmampuan peserta didik dalam menulis puisi baru, yakni sebagai berikut: 1) ketidakmampuan guru dalam memberi pengalaman siswa dalam pembelajaran penulisan puisi baru; 2) seorang guru kurang menguasai materi menulis puisi baru; 3) guru kurang mengembangkan media pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa; 4) guru kurang memberikan teknik penilaian yang merangsang daya kreativitas dan imajinasi siswa.
Manfaat/fungsi penulisan puisi baru adalah dapat digunakan sebagai sarana menyampaikan sejumlah hal, yang kadang bersifat eksplisit-gamblang dan kadang pula bersifat implisit-samar; kadang berupa informasi/persoalan/masalah dan kadang hanya berupa suasana tertentu. Kesemuanya itu sesungguhnya diperoleh atau berangkat dari pengalaman penyair-tepatnya sering disebut sebagai pengalaman kejiwaan-dalam merengkuh hidup dan kehidupannya, baik pengalaman yang bersifat emosional, intelektual, empirikal, maupun pengalaman lainnya. Atau dapat dikatakan membangun sebentuk komunikasi dialogis dengan pembacanya.
Media yang akan digunakan peneliti untuk mengaktifkan siswa dalam pembelajaran menulis puisi baru yakni dengan menggunakan kotak kreasi origami yang berisi berita dari koran. Media adalah suatu alat yang berfungsi sebagai perantara untuk mempermudah pemahaman tentang suatu objek. Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Medoe adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan,” (Arief S. Sadiman, dkk, 2006:6).
Kelebihan pemanfaatan media berita di koran dalam kotak kreasi origami sebagai media menulis puisi baru adalah sebagai berikut: 1. Berita tersebut mudah diamati, sehingga siswa dengan mudah dapat mendata fakta yang terdapat dalam berita yang akan dijadikan bahan penulisan puisi baru. 2. Peristiwa-peristiwa tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari, sehingga siswa dengan mudah menentukan tema dan amanat yang akan dijadikan bahan penulisan puisi baru. 3.Berita-berita tersebut sangat menarik apalagi peristiwa dalam berita tersebut merupakan berita mengejutkan, sehingga siswa dengan mudah dapat mengubah fakta yang terdapat dalam peristiwa tersebut menjadi sebuah puisi baru yang menarik.
B.Tahapan-Tahapan Pembelajaran Menulis Puisi Baru
1.Perumusan Tujuan Pembelajaran
Perumusan tujuan pembelajaran sesuai SK, KD, dan indikator yang tercantum dalam RPP.
Standar Kompetensi: Menulis 8. Mengungkapkan pikiran, dan perasaan melalui kegiatan menulis puisi
Kompetensi Dasar : 8.2 Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima Indikator :
(1) Mengidentifikasi puisi baru berdasarkan bait, irama, dan rima.
(2) Menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima.
(3) Menyunting puisi baru yang dibuat teman
2.Penentuan Materi Ajar
Penentuan materi ajar didasarkan pada materi pokok/pembelajaran yang terdapat dalam silabus. Materi ajar/materi pembelajaran harus disesuaikan dengan: (a) tingkat kemampuan siswa, (b) perkembangan jiwa siswa, dan (c) minat siswa yang diintegrasikan dengan penanaman nilai budi pekerti. Materi ajar menulis puisi baru berdasarkan berita berbagai peristiwa mengacu pada teori tentang unsur-unsur puisi baru, yaitu sebagai berikut: Puisi terdiri dari dua unsur yang menjadi ciri umum puisi, yaitu:
1). Unsur yang berkaitan dengan bentuk puisi terdiri dari unsur bunyi (rima dan irama), diksi atau pilihan kata, dan tampilan cetak/tulisan (tipografi).
2). Unsur yang berkaitan dengan makna puisi terdiri dari unsur tema dan unsur pesan tersurat atau pesan tersirat.
Menurut Herman J. Waluyo (1987:83-117), unsur pembangun puisi yang termasuk dalam struktur fisik puisi adalah: 1) diksi atau pemilihan kata adalah suatu proses memilih kata-kata sebab kata-kata yang ditulis harus mempertimbangkan maknanya, komposisi bunyi dalam rima dan irama; 2) pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensoris, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan; 3) kata konkret adalah kata-kata itu dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh; 4) majas (lambang dan kiasan) adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yakni secara tidak langsung mengungkapkan makna; 5) bersifikasi (rima, ritma, dan metrum): rima adalah pengulangan bunyi dalam puisi, ritma adalah pemotongan baris menjadi frasa yang berulang-ulang sehingga menimbulkan gelombang yang teratur, sedangkan metrum adalah pengulangan tekanan yang tetap, dan 6) tipografi adalah kata-kata yang disusun mewujudkan larik-larik yang panjang dan pendek yang membentuk suatu kesatuan padu.
Sedangkan struktur batin puisi, sebagaimana disebut Herman J. Waluyo (1987:124-154), terdiri atas 1) tema adalah gagasan pokok atau subject-master yang dikemukakan oleh penyair; 2) nada adalah sikap penyair kepada pembaca; 3) perasaan adalah suasana perasaan penyair dalam karya sastranya; dan 4) amanat adalah pesan yang disampaikan penyair kepada pembaca .
Ciri-ciri puisi baru yakni sebagai berikut: a) bentuknya rapi, simetris; b) mempunyai persajakan akhir (yang teratur); c) banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain; d) sebagian besar puisi empat seuntai; e) tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis); f) tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar: 4-5 suku kata.
Puisi baru dapat diklasifikasikan menurut dua jenis, yakni: Pertama, menurut isinya, puisi dibedakan atas : a) balada adalah puisi berisi kisah/cerita; b) himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan; c) ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa; d) epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup; e) romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih; f) elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan; g) satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain: a) distichon (2 baris); b) tersina (3 baris); c) quartrain (4 baris); d) quint (5 baris); e) sextet (6 baris); f) septima (7 baris); g) oktaf/stanza (8 baris); h) soneta (14 baris yang biasanya dibagi atas: 3 quartrain ditambah 1 distichon, 2 quartrain ditambah 2 tersina, mungkin pula variasi lain).
3.Penentuan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran menulis puisi baru adalah ceramah, diskusi kelompok, dan tanya jawab. Metode ceramah dilakukan guru dengan tujuan agar siswa mendapat informasi tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan, (Roestiyah, 2001:137). Apapun metode pembelajaran yang digunakan tidak bisa terlepas dari metode ceramah. Selain berfungsi untuk mengawali pembelajaran, penggunaan metode ceramah juga didorong pula oleh tanggung jawab guru untuk berusaha memperkenalkan pokok-pokok terpenting yang merupakan suatu kerangka yang bulat dari suatu pelajaran baru, serta guru ingin membuat kesimpulan pelajaran yang baru diberikan itu, untuk mengambil intisari atau pokok-pokok terpenting, agar siswa terbiasa berbuat demikian.
Yang kedua adalah menggunakan teknik diskusi. Menurut Roestiyah (2001:5), di dalam diskusi ini proses interaksi antara dua atau lebih individu yang terlibat, saling tukar menukar pengalaman, informasi, memecahkan masalah, dapat terjadi juga semuanya aktif tidak ada yang pasif sebagai pendengar saja. Kelebihan dari metode diskusi, yakni sebagai berikut: 1) dapat mempertinggi partisipasi siswa secara individual; 2) dapat mempertinggi kegiatan kelas sebagai keseluruhan dan kesatuan; 3) rasa sosial siswa dapat berkembang; 4) memberi kemungkinan untuk saling mengemukakan pendapat; 5) memperluas pandangan; 6) menghayati dan mengembangkan kepemimpinan.
Metode yang ketiga adalah metode tanya jawab. Menurut Roestiyah (2001:129), metode tanya jawab adalah suatu metode untuk memberi motivasi pada siswa agar bangkit pemikirannya untuk bertanya, selama mendengarkan pelajaran; atau guru yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, siswa menjawab. Guru melontarkan teknik tanya jawab itu mempunyai tujuan, agar siswa dapat mengerti atau mengingat-ingat tentang fakta yang dipelajari, didengar ataupun dibaca, sehingga mereka memiliki pengertian yang mendalam tentang fakta itu. Diharapkan pula dengan tanya jawab itu mampu menjelaskan langkah-langkah berfikir atau proses yang ditempuh dalam memecahkan masalah/soal; sehingga jalan pikiran anak tidak meloncat-loncat; yang akan merugikan siswa sendiri dalam menangkap suatu masalah untuk dipecahkan.
4.Pemilihan Berita Berbagai Peristiwa dari Koran dan Puisi Model
Pemilihan berita berbagai peristiwa dari koran yakni dengan memperhatikan: 1) beritanya dekat dengan domisli siswa/beritanya local; 2) beritanya menarik untuk siswa; 3) beritanya sesuai kebutuhan/kompetensi/karakteristik siswa.
5.Pelaksanaan Pembelajaran Menulis Puisi Baru
Pelaksanaan pemanfaatan berita di koran dalam kotak kreasi origami sebagai media menulis puisi baru meliputi:
1.Guru memberikan motivasi, menyampaikan tujuan pembelajaran dan menghubungkan materi yang diajarkan sebelumnya dengan yang akan diajarkan pada saat itu.
2.Guru memancing pengalaman siswa dengan pertanyaan berikut: 1. Apa pengertian puisi baru dan mengapa ada puisi baru? 2. Apakah ada ciri-ciri khusus dari puisi baru dan jika ada sebutkan? 3.Ada berapa jenis puisi baru ? 4.Apa itu bait,irama, dan rima dan bagaimanakah implementasinya dalam penulisan puisi baru?
3. Guru menyampaikan contoh puisi baru
4. Guru membagi siswa menjadi kelompok-kelompok kecil
5. Guru memberikan contoh puisi baru dan guntingan berita dari koran untuk dicermati
6.Siswa mendiskusikan ciri-ciri/unsur-unsur dan jenis puisi baru yang dibagikan tiap kelompok.
7.Siswa bertanya jawab tentang bagaimana mengubah berita dari koran menjadi puisi baru.
8.Guru membagikan kotak kreasi origami yang berisi berita dari koran, satu kotak kreasi origami untuk satu kelompok.
9.Semua siswa menulis puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima sesuai berita yang dibagikan tiap kelompok oleh guru.
10.Siswa saling menukarkan hasil pekerjaannya kepada teman sekelompoknya untuk disunting.
11.Setelah selesai disunting, hasil pekerjaannya tadi dikembalikan dan diperbaiki.
12.Selanjutnya berita dan semua pekerjaan siswa tadi dikumpulkan ke dalam kotak kreasi origami dan diberikan kepada guru kembali.
13.Melalui tanya jawab guru membahas rangkuman
14.Guru memberikan refleksi (kesan dan kepuasan siswa)
15.Guru memberikan tugas rumah membuat puisi baru dengan memperhatikan bait, irama, dan rima dengan menggunakan media alat-alat kebersihan.
C.Simpulan
Puisi baru adalah puisi yang bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Media yang digunakan dalam pembelajaran menulis puisi baru yakni dengan menggunakan kotak kreasi origami yang berisi berita dari koran. Kelebihan pemanfaatan media berita di koran dalam kotak kreasi origami sebagai media menulis puisi baru adalah sebagai berikut: 1) berita tersebut mudah diamati; 2) peristiwa-peristiwa tersebut berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari; 3) berita-berita tersebut sangat menarik. Tahapan-tahapan pembelajaran menulis puisi baru yakni sebagai berikut: 1) perumusan tujuan pembelajaran; 2) menentukan materi ajar; 3) menentukan metode pembelajaran; 4) pemilihan berita berbagai peristiwa dari koran dan puisi model; 5) pelaksanaan pembelajaran menulis puisi baru
Daftar Pustaka
Herman J. Waluyo. 1987. Pengkajian dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.
Jabrohim, et al. 2009. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Rachmat Djoko Pradopo. 1990. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Roestiyah. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Puisi Baru dalam www.kataberita.com/puisi/puisi.htm diakses tanggal 12 Desember 2012 pukul 08.54 WIB.
Puisi Baru dalam zhi3pisces.wordpress.com/2009/02/12/puisi-lama-dan-puisi-baru/ diakses tanggal 12 Desember 2012 pukul 08.45 WIB